Tampilkan postingan dengan label True of Me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label True of Me. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2013

My Dream

“Tuhan … aku mohon padamu. Besok adalah hari besar bagiku. 19 tahun aku genap bersama penyakit ini. Aku mohon besok aku bisa seperti dulu sehat dan bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Kata mami besok mau di rayain ulang tahunku. Aku hanya ingin semua orang bisa melihat senyuman di hari akhirku bukan sebuah tangisan. Aku harap Rey datang meski dia tidak tau aku dan aku tidak mengundangnya. Meski pun ini salah aku bahagia bisa mengenalnya ia yang bisa membuatku merasakan cinta pandangan pertama dan ia adalah cinta pertama bagiku meski ia adalah seorang wanita. Aku bahagia Tuhan hidup di dunia ini dan aku harap aku akan bisa mengingatnya meski saat aku mati nanti. Amin”, ucap Kimi pada doanya sebelum ia tidur.

Kimi pun tidur. 

Selasa, 19 November 2013

See you Again

Pagi ini Kimi sudah bisa kembali ke rumahnya. Maria dan Kevin tidak pergi bekerja. Caca juga datang mengunjungi Kimi. Caca menemani Kimi bermain PS. Kimi suka bermain Tekken bersama Caca. Kimi merasakan kebahagian hari ini dengan adanya orangtuanya dan juga Caca yang menemaninya seharian. Kimi dan Caca bersama orangtua Kimi pergi ke mall. Kimi sudah menggunakan kursi roda dan Caca mendorong Kimi sambil berjalan-jalan di Mall.

“Caca … Kamu temenin Kimi ya. Om sama tante mau pergi dulu sebentar nanti kita ketemuan aja. Okay”, ucap Maria pada Caca 

“Sip tante. Ayo Kim kita jalan”, ucap Caca pada Kimi. Maria dan Kevin pun mengunjungi EO untuk pesta ulang tahun Kimi. Caca dan Kimi mampir di tempat makan mereka memesan donuts dan minuman dingin. Mereka memilih tempat dekat taman.

 “Gimana kuliah lu?”, ucap Kimi pada Caca

“Yah, gitu-gitu aja. Tapi gw udah selesai skripsi dan tinggal siding”, ucap Caca

“Wah .. gokil. Asik dong. Ye … makan-makan nih”, ucap Kimi 

“haahha … iya deh. Gw traktir lu sepuasnya”, ucap Caca. 

“Ca …”, ucap Kimi terputus karena tiba-tiba mulutnya sulit digerakan. 

“Kim? Lu kenapa?”, Tanya Caca pada Kimi yang melihat Kimi aneh. Kimi mengambil hpnya dan mengetikkan sesuatu lalu di berikan pada Caca.

“Mulut lu gk bisa gerak? Hmm … ya udah gk usah ngomong ya hehhe. Tapi bisa makan gk?”, ucap Caca. Kimi menggeleng.

“Kalau gitu gk jadi traktir dong. Hahaha …”, ucap Caca dan membuat raut wajah Kimi menjadi marah. 

“Gk becanda. Ya, udah jangan di paksain. Mendingan Kita jalan lagi ya”, ucap Caca dan Kimi menggangguk. Tiba-tiba saat Kimi dan Caca beranjak pergi Kimi melihat Rey dan ia sedang latihan dance bersama teman-temannya. Kim memegang tangan Caca. 

“Kenapa?”, Tanya Caca. Kimi menunjuk pada gerombolan anak yang sedang dance. Caca mengerti dan Caca mengantar Kimi mendekat untuk melihat mereka latihan dance. Rey melihat Kimi datang bersama temannya dan langsung menghampiri Kimi.

“Hei … Kimi … Apa kabar?”, ucap Rey. Kimi hanya tersenyum.

“Udah kenal?”,Tanya Caca. 

“Udah. Lu temannya Kimi?”, ucap Rey 

“Iya. Gw Caca”, ucap Caca memperkenalkan dirinya. 

“Rey”, balas Rey. Kimi mengeluarkan kain dan memberikannya pada Rey. 

“Ma…ka.sih”, ucap Kimi terbatah-batah berusaha untuk bisa berbicara pada Rey. 

“Lu tuh kan gw bilang jangan di paksa ngomong dulu Kim”, ucap Caca kesal pada Kimi. 

“hmm … Dia kenapa?”, Tanya Rey 

“Katanya susah ngomong”, ucap Caca. 

“Auu”, teriak Caca yang sakit di cubit Kimi. 

“Gk ko”, ucap Kimi

“Lu tuh. Udah sakit tetep aja tangannya sadis”, ucap Caca yang masih merasakan sakit di tangannya. 

“CA “, ucap Kimi dan membuat Caca terdiam.

“hahha … kalian mau kemana?”, Tanya Rey

“gk tau. Mau jalan-jalan aja si”, ucap Caca 

“Iya. Caca bilang lagi ada sale”, ucap Kimi langsung

“He? Kapan gw bilang”, ucap Caca tidak percaya dengan yang ia dengar.

“hahah … ada ko. Di lantai 3 itu lagi ada sale pakaian. Mau kesana?”, ucap Rey. 

“Serius?”, ucap Caca langsung yang mendengar kata “sale”. Rey pun langsung mengangguk. 

“Ya, udah ayo ke sana”, ucap Kimi. Caca pun juga setuju untuk ke sana. 

“Biar gw yang dorong”, ucap Rey pada Caca. Caca memberikan kursi roda Kimi pada Rey dan Kimi langsung tersenyum dengan sikap Rey.Sesampainya di toko yang menyediakan “sale” Caca langsung menyerbu barang-barang meninggalkan Kimi bersama Rey.

“Kayanya itu bagus deh”, ucap Kimi sambil menunjuk sebuah dress pesta. Rey langsung mendorong kursi roda Kimi menuju baju yang di tunjuknya. Kimi berusaha bangun dan memperlihatkan pada Rey kalau ia memakai baju tersebut.

“Bagus”, ucap Rey.

“tapi gk bisa di pake”, ucap Kimi langsung. Rey hanya diam. Caca, Kimi dan Reypun selesai melihat sale Rey pamit karena Caca dan Kimi akan bertemu dengan orangtua Kimi. Setelah Kimi dan Caca bertemu orangtua Kimi mereka langsung pulang. Caca pun juga berpamitan dengan orangtua Kimi.

My Night Mare

“Pak … tolong anterin aku ke kamar. Kaki aku sakit”, ucap Kimi yang tidak bisa menggunakan kakinya. 

“Ah … iya non”, ucap Pak Ron langsung. Pak Ron pun mengangkat Kimi menuju kamarnya. Sesampainya kimi di kamar Kimi langsung di rebahkan. Kimi langsung meminum obat yang ada di meja sebelah ranjangnya. 

“Owh, iya. Pak Ron. Ini buat bapak”, ucap Kimi sambil memberikan sebuah barang. 

“wah, makasih non”, ucap Pak Ron

“Iya”, balas Kimi 

“Kalau gitu .. bapak ke bawah dulu ya. Non istirahat ya”, ucap Pak Ron. Kimi pun menggangguk. Pak Ron pun pergi meninggalkan Kimi di kamarnya.

“Rey”, ucap Kimi sambil tersenyum. Ia pun tidur. Jam telah berganti dan bulan pun sudah muncul bersamaan dengan gelapnya malam serta taburan bintang. Kimi yang sudah bangun dari tidurnya langsung mengambil kain dari Rey dan terus mengingat Rey. 

“Kimi?”, ucap Maria ibu Kimi yang masuk ke kamar. 

“Udah bangun? Kata Pak Ron tadi kaki kamu sakit?”, ucap Maria sambil mengelus rambut anaknya.

 “Iya. Sekarang gk bisa di gerakin mi”, ucap Kimi pada ibunya.

“Kita ke dokter ya. Bentar lagi papi pulang”, ucap Maria yang khawatir dengan keadaan anaknya. 

“Terserah. Mau sejuta kali Kimi menolak dokter juga kalian tetap bakal bawa Kimi dan mau sejuta kali dokter digunakan Kimi juga bakalan pergi”, ucap Kimi dengan nada tinggi.

“Kamu jangan ngomong gitu dong sayang. Setidaknya dokter bisa mengurangi rasa sakit kamu dan membuat kamu tetap hidup di samping mami dan papi”, ucap Maria.

“Aku tau mi. Tapi mami taukan. Sakit ini gk bakal bisa hilang. Kimi juga udah bisa terima keadaan Kimi yang seperti ini mi”, ucap Kimi

“Mami tau … Mami tau sayang kamu kuat. Tapi mami mohon sama kamu. Jangan menolak dokter buat mami dan papi kamu. Yang kita mau kamu tetap hidup di samping kami sayang”, ucap Maria sambil meneteskan air mata.. 

“hmm … iy. Kimi bakal nurut kalian tapi Kimi gk mau selalu di rumah. Kimi mau menikmati apa yang Kimi gk bisa lakuin. Menikmati masa-masa Kimi yang masih ada meski sedikit”, ucap Kimi.

“Dengan 1 syarat kamu harus terus minum obat kamu”, ucap Maria

“Iya”, ucap Kimi 

“Mami sayang kamu “, ucap Maria sambil memeluk Kimi dan mencium kening Kimi.

“hmm … ueeekkk”, Kimi mual

“Kimi?”, ucap Maria.

“Uuueeekkk …. Ooohhhoookkk hhhhooookkk” “Kimi? Kimi kamu …”, ucap Maria yang panik melihat anaknya muntah dan batuk serta mengeluarkan darah.

“Mami … hhhhooookkkk ooohhhkoooookk … Mami … Kimi ….”, ucap Kimi sambil menangis. Kimi takut dan tidak kuat melihat dirinya sendiri. Tangan, mulut, dan ranjangnya penuh dengan darah. Maria langsung memanggil Pak Ron dan mereka pergi ke rumah sakit. Maria menutup mulut Kimi dengan kain. Kimi terus batuk dan muntah, ia juga tidak berhenti mengeluarkan darah. Mereka pun sampai di rumah sakit Kimi langsung masuk UGD dan di periksa oleh dokternya. Maria menunggu Kimi di luar sambil menunggu suaminya datang. 

“Ma? Kimi gimana?”, ucap Kevin suami Maria. 

“Pa … Kimi … Tadi dia muntah terus batuk – batuk dan berdarah”, ucap Maria sambil menangis di pelukan suaminya. Baju Maria masih membekas darah Kimi.

“Tenang … Kimi pasti baik-baik aja. Kamu gk boleh nangis di depan dia biar dia bisa kuat juga. 
Ya”, ucap Kevin yang ia juga ingin menangis. Maria menghapus air matanya. Dokterpun keluar dan mendatangi Kevin serta Maria.

“Gimana?”, ucap Kevin langsung pada dokter Jimmy. 

“Anak kamu semakin parah. Kankernya sudah memasukki stadium akhir. Umur Kimi … hanya beberapa hari lagi. Tapi Tuhanlah yang lebih tau. Sekarang kita sama-sama berdoa saja buat Kimi. Hmm … Kimi sudah istirahat. Jadi jangan terlalu membuatnya cape”, ucap Jimmy

“Iya iya. Makasih ya”, ucap Kevin 

“Iya. Aku balik dulu, Vin .. Mar”, ucap Jimmy pamit. 

“Iya.” Balas Kevin. Kevin dan Maria pun memasukki kamar Kimi dan mereka melihat Kimi sedang tertidur. 

“2 hari lagi Kimi ulang tahun pa”, ucap Maria. 
“Iya. Aku tau. Lalu bagaimana? Apa kita jadi untuk merayakannya?”, ucap Kevin 
“Aku mau merayakannya dan aku yakin Kimi juga mau. Selama ini Kimi tidak pernah minta dan aku berfikir itu moment penting baginya”, ucap Maria. 

“Iya. Kau benar. Kalau gitu sekarang kita biarkan Kimi tidur dan besok kita mempersiapkan pesta ulang tahun baginya. Kita akan memberikan kejutan untuknya nanti dan akan selalu ia kenang”, ucap Kevin dan Maria menggangguk. Kevin dan Maria pun pulang dan membiarkan Kimi tidur di rumah sakit.

My Happy Days With You

“Akhirnya bisa keluar juga”, ucap Kimi. Kimipun berjalan-jalan dan melihat-lihat setiap toko.

“Aduh”, ucap Kimi yang menabrak orang.

“Sorry”, ucap Orang tersebut.

“Lain kali ha…ti-…ha…ti….”, ucap Kimi yang terputus-putus karena ia melihat orang yang ia cari. “Dia”, pikir Kimi. 

“Sorry … gk sengaja. Lu gk apa-apakan?”, ucap Orang itu.

“Ha? Gk ko”, ucap Kimi yang tidak berhenti menatap orang tersebut.

“eh, lu yang kemaren kan?”, ucap orang itu 

“Iya. Owh, iya. Kimi”, ucap Kimi

“hmm … Rey”, ucap orang tersebut sambil membalas jabatan tangan Kimi. 

“sendirian?”, Tanya Kimi langsung.

“hmm … gitu lah. Tadi sih mau latihan dance tapi gk jadi. Lu?”, ucap Rey 

“liat aja berdua kan?”, ucap Kimi 

“Berdua? Mana satu lagi?”, Tanya Rey binggung.

“Bayangan”, ucap Kimi 

“Hahahha …. Ada-ada aja lu. Mau di temenin gk?”, Tanya Rey

“Wah, mau niat jahat ya”, ucap Kimi 

“He? Jahat? Masih jaman?”, ucap Rey

“Yah, jamanlah. Malah modus banget kaya gitu”, ucap Kimi “Hahhaha … gk lah. Kalau gw niat jahat udah dari kemarenkan”, ucap Rey

“Iya sih. Hmm … ya udah. Tapi masa lu mau nemenin gw belanja”, ucap Kimi

“Hmm … asal gw gk di lupakan dan di gantikan dengan baju sih gpp”, ucap Rey

“Hahhah … gk lah”, balas Kimi 

“hmm … ya udah. Jadi lu mau kemana?”, Tanya Rey

“Hmm … belum tau paling liat-liat yang bagus aja sih. Udah lama juga gk keluar rumah”,ucap Kimi 

“Gk keluar? Kaya cinderlela aja. Ya udah kita ke sana aja gimana?”, ucap Rey 

“boleh”, ucap Kimi. Akhirnya Rey dan Kimi pun berjalan bersama melihat-lihat mall. 

“owh, iya. Lu gk kuliah?”, Tanya Kimi 

“hmm … gw? Gk. Gw sih udah lulus”, ucap Rey

“Owh, gw kira masih kuliah ehheh”, ucap Kimi

“kenapa? Masih muda ya gw? Wkkwkw”, ucap Rey

“hu .. pd banget lu”, ucap Kimi 

“eh, ada tempat maen. Mau maen dulu gk?”, ucpa Rey.

“hmm … maen ya. Dulu sih gw suka tapi udah gk boleh”, ucap Kimi dengan raut sedih. 

“Gk boleh? Kenapa gk boleh?”, Tanya Rey 

“soalnya … soalnya gw sakit”, ucap Kimi 

“hmm … tapi ayo deh kalau lu mau maen. Gw temenin aja tapi ya”, ucap Kimi sambil tersenyum menghapus kesedihan di wajahnya. Tiba-tiba Rey memegang tangan Kimi. Kimipun langsung melihat kearah Rey.

“Kalau lu mau maen biar gw bantu. Ayo”, ucap Rey yang membuat Kimi tersenyum. Kimi dan Rey pun bermain bersama. Mereka bermain bola basket, balap mobil, dan tembak-tembakan. Rey mengajak Kimi bermain pump tapi Kimi menolak. Sampai akhirnya Kimi berhasil di bujuk dan bermain bersama Rey. 

“Gimana? Udah puas maennya?”, ucap Rey yang sudah bekeringat karena bermain pump. 

“PUUUAAaaasss banget. Thanks ya”, ucap Kimi pada Rey. 

“iya. Eh, … lu mimisan tuh”, ucap Rey. “Mimisan?”, ucap Kimi sambil memegang hidungnya yang mengeluarkan darah. 

“Jangan di pegang. Sini”, ucap Rey yang langsung menutup hidup Kimi dengan kain kecil yang ia bawa. Kimi tidak berhentinya menatap Rey. 

“Makasih”, ucap Kimi

“Iya. Lu selalu mimisan ya?”, ucap Rey 

“hm? Hahah iya. Gw udah biasa ko. Kalau orang sakit kanker otak sama darah udah biasa”, ucap Kimi sambil tersenyum. Kimi sudah terbiasa dengan sakitnya dan ia tidak mau menyerah pada sakitnya. 

“Kanker otak?”, ucap Rey pelan tidak percaya apa yang ia dengar. 

“Udah yuk. Gw laper. Ayo makan”, ucap Kimi sambil menarik tangan Rey dengan tangan kanannya. Rey pun mengikuti Kimi. Mereka pun makan bersama dan kali ini Rey yang berbalik memperhatikan Kimi. Tiba-tiba tangan Rey menyentuh bibir Kimi dan membuat Kimi seakan melayang. 

“Ada nasi tuh. Dasar anak kecil”, ucap Rey sambil tersenyum dan membuat Kimi malu.

“hehehe … lu gk makan”, ucap Kimi 

“Gk. Udah mau jam 2”, ucap Rey 

“He? Cepet banget. Jam 3 gw udah harus pulang”, ucap Kimi

“ya, udah makan dulu abis itu kita lanjut lagi”, ucap Rey. 

“Ini udah abis”, ucap Kimi 

“Jadi mau kemana?”, ucap Rey sambil berdiri dan Kimi pun mengikutinya. Tiba-tiba Kimi kembali duduk dan membuat Rey kaget. 

“Kimi? Lu kenapa?”, Tanya Rey 

“Ha? Gk ko. Cuma pusing. Sekarang gw harus minum obat. Tapi obatnya di mobil”, ucap Kimi 

“Terus gimana? Hmm … ya udah kita ke mobil lu ya sekarang”, ucap Rey

“ha? Gk. Nanti aku di suruh pulang. Udah aku gpp ko. Ayo kita jalan lagi”, ucap Kimi memaksa berdiri dan berjalan.

“Kimi … tuh kan. Lu harus minum obat. Okay”, ucap Rey yang melihat Kimi tidak kuat berjalan. 

“Gk! Jangan maksa gw. Lu bukan siapa-siapa gw”, ucap Kimi sambil menangis. Rey menjadi binggung dengan perasaannya sendiri. 

“Iya. Emang gw bukan siapa-siapa dan baru 2 kali ketemu lu. Tapi lu sakit lu harus minum obat biar lu sehat. Kasian orangtua lu”, ucap Rey memberikan pengertian pada Kimi dengan lembut

“Tapi … gw cape … gw cape harus minum obat terus. Gw hanya mau jalan dan melihat dunia luar rumah gw aja saat ini”, ucap Kimi 

“tapi …”, ucap Rey 

“Gw mohon sama lu. Kalau lu peduli sama gw meski kita baru ketemu 2 kali. Lu jangan suruh gw minum obat dan lupain kalau gw sakit”, ucap Kimi pada Rey sambil menatap mata Rey. Rey pun luluh dengan sikap Kimi 

“Okay. Sekarang lu bisa jalan gk?”, ucap Rey dan Kimipun menggeleng. Rey pun langsung berjongkok di bawah Kimi. 

“Ayo naik”, ucap Rey yang ingin menggendong Kimi.

“He? Rey”, ucap Kimi yang merasa kebaikan Rey dan membuat hatinya bergejolak. Kimipun di gendong oleh Rey sambil berjalan mengelilingin mall. Kimi dan Rey membeli beberapa barang dan pukul 3 pun tiba. Rey mengantar Kimi ke lobby dan menemaninya menunggu supir Kimi. 

“makasih ya”, ucap Kimi pada Rey sambil tersenyum.

“Iya. Lain kali bawa obat ya”, ucap Rey. “heheh … iya”, ucap Kimi. Kimipun masuk kedalam mobil.

“Dah”, ucap Rey pada Kimi sambil melambai.

“Rey !!”, teriak Kimi dan Rey pun menengok lalu Kimi melemparkan sebuah barang pada Rey. Rey pun berhasil menangkapnya lalu Kimi pergi dengan mobilnya menuju rumah. Rey membuka barang yang di lempar Kimi dan ternyata sebuah kalung yang Kimi beli tadi.

“hmm … Kimi”, ucap Rey sambil melihat kalung yang di berikan Kimi dan tersenyum melangkah pergi dari lobby mall. Kimi bersama supirnya sampai di rumah.

Last of Me ... I Love You ..

Pagi ini matahari nan indah menyapa Kimi dan sebuah mujizat Kimi bisa berdiri dengan Kakinya. Acara ulang tahunnya akan di laksanakan malam. Kimi akan pergi ke salon untuk menata rambutnya serta membeli dress yang ia inginkan. Kimi melihat Jam sesaat ia bangun dan jam menunjukkan pukul 11. Dengan segera Kimi mandi lalu makan serta minum obat. Kimi pamit dengan orangtuanya untuk pergi ke mall. Kimi tidak menemukan Rey di sana dan Kimi langsung pergi ke salon. Kimi mempercantik dirinya dengan Spa terlebih dahulu. Kimi benar-benar memanjakan dirinya. Setelah ia selesai Spa dan pemijitan ia pun meremajakan kulit wajahnya dan membuatnya lebih fresh. Kimi yang merasa telah kembali ia baru pergi ke salon untuk menata rambutnya dan wajahnya menjadi lebih menarik serta tampil sehat. Jam pun menunjukkan pukul 5. Kimi pun langsung pergi makan sebentar dan setelah itu ia membeli dress yang ia ingin kan. Setelah semua selesai Kimi kembali ke rumahnya dan langsung mengenakan Dress ya. Jam terus berputar dan tepat pukul 7 malam semua tamu sudah datang. Kimi melihat semua teman sekolahnya dari tk sampai kuliah dari lantai 2. Kimi pun turun kebawah untuk menyapa teman-temannya. Teman-teman Kimi merasa kaget dan takjud bahkan kedua orangtuanya juga saat melihat Kimi keluar dengan dress serta penampilan yang berbeda seperti biasanya. Mereka melihat Kimi seperti hidup dan sehat kembali.   

“Kimi”, ucap seseorang dari belakang Kimi. 

“Caca”, balas Kimi 

“Wah, lu cakep banget sumpah gw gk bohong”, ucap Caca langsung pada teman kesayanganya itu. 

“Ha? Bisa aja. Makasih ya”, balas Kimi

“Owh, iya. Happy birthday yah. Ini kado special dari gw buat lu”, ucap Caca sambil memberikan kadonya 
pada Kimi 

“Wah. Thank you”, ucap Kimi pada Caca sambil memeluk Caca. 

“Kim”, ucap Caca pada Kimi

 “Apa?”, Tanya Kimi binggung. 

Caca menunjuk untuk Kimi berbalik dan Kimi pun berbalik. Kimi melihat Rey datang ke pesta ulang tahunnya. Rey membuat Kimi semakin yakin bahwa ia menyukainya. Rey sangat tampan dan terlihat seperti cowo dengan celana panjang serta kemeja hitam dipadu dengan blazer putih. Potongan rambut Rey yang baru membuat ia menjadi terlihat seperti cowo. Rey mendekati Kimi.

“Happy birthday”, ucap Rey pada Kimi sambil memberikan sebuket bunga mawar putih dan merah. Rey juga memberikan sebuah kado. Kimi menerimanya dengan senyuman lebar di wajahnya. Senyuman kebahagiaan yang bisa di lihat oleh semua orang. 

“Thanks. Boleh di buka?”, ucap Kimi dan Rey menggangguk. Kimi membuka hadiah Rey dan ternyata sebuah cincin. Rey langsung memasangkan cincin tersebut di jari Kimi dan Rey juga menunjukkan cincin yang ia pakai di jarinya. Itu adalah sebuah cincin dengan mutiara di tengahnya dan sekeliling cincin tersebut terdapat ukiran nama mereka berdua yang tersambungkan. Kimi langsung merasa binggung. 

“Maksudnya?”, ucap Kimi pada Rey. 

“Gw gk tau apa yang gw rasakan benar atau salah. Yang pasti gw sayang sama lu Kimi dan gw gk akan pernah berharap lu jadi pacar gw yang penting … lu udah tau perasaan gw. Gw juga gk mau membuat lu menjadi seorang lesbian. Tapi … gw jujur … kalau gw benar-benar sayang sama lu. Itu aja yang harus lu tau”, ucap Rey

“Rey”, balas Kimi dan tiba-tiba Rey mencium kening Kimi. Kimi langsung terdiam.

“Gw sayang sama lu rey”, balas Kimi. Rey dan Kimi sama-sama bahagia begitu juga dengan Caca yang bisa melihat sahabatnya tersenyum. Seketika Kimi merasa pusing dan tubuhnya menjadi berat. Kakinya mulai lemas dan ia terjatuh tepat di pelukan Rey.

“Kimi !!”, teriak Caca dan Rey. Membuat semua orang melihat kearah mereka. Orangtua Kimi langsung menghampiri Kimi.

“Aku gk apa-apa. Makasih buat semuanya. Aku bahagia”, ucap Kimi sambil tersenyum. 

“Kimi …”, ucap Rey perlahan-lahan tangan Kimi melemas dan ia pun pergi bersama dengan senyumannya yang masih membekas di bibirnya. 

“Pa …”, ucap Maria pada suaminya dan ia mulai menangis melihat anak kesayangnya telah pergi. Kevin suami Maria juga tidak bisa menahan air matanya saat ia tau anaknya sudah pergi. Caca dan Rey merasa kehilangan seseorang yang mereka sayang. Rey memeluk Kimi untuk terakhir kalinya. 

“Aku sayang kamu”, ucap Rey berbisik pada Kimi. 

Kevin mengangkat tubuh Kimi untuk di bawa ke rumah duka. Caca tidak kuat menahan tangisnya untuk sahabatnya itu. Rey dan Caca ikut pergi membawa Kimi. Pesta ulang tahun Kimi menjadi akhir dari kisah hidup Kimi. Seluruh teman-teman Kimi tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Kimi dikenal sebagai sosok yang membangkitkan semangat serta periang. Kimi tidak memiliki musuh selama hidupnya dan semua orang yang mengenal Kimi merasa terpukul dengan kepergian Kimi. Esok pagi Kimi langsung di makamkan. Rey mendatangi makam Kimi setiap hari dan selalu memberikan bunga mawar putih karena Rey tau Kimi sangat menyukai bunga tersebut. Hingga saat ini Rey tidak pernah dekat dengan seorang pun baik wanita atau pria dan Rey memutuskan untuk menjadi biarawan dan ia tidak pernah menikah. Karena bagi Rey, Kimi adalah seorang dalam hidupnya yang ia sayangi. Caca pun sudah menyelesaikan skirpsinya dan ia menikah dengan seorang pria. Caca juga selalu mengunjungi makam Kimi dan berbagi cerita dengan Kimi tentang hari-harinya terutama tentang anaknya yang kembar dan Caca memberikan nama anaknya Rey untuk laki-laki dan Kimi untuk perempuan. 

THE END

I Know you Now ...

Pertemuan pertama ini tidak akan pernah aku lupa seumur hidupku. Saat pertama tatapan mata itu menatap dan saling pandang dan saat tangan kokoh nan lembut menyentuhku . Waktu seakan perputar dan berhenti seketika karena tatapan itu. Bibirpun enggan untuk berkata bahkan menyapa. Aku tidak mengerti yang kurasakan yang aku tau ini tidak boleh aku rasakan bahkan terjadi menjadi kenyataan.  

“Door !!”

“AAaaaa”, teriak Kimi.

“Ihh, Caca. Iseng banget sih”, ucap Kimi kesal pada Caca. 

“Hahahha … abis lu. Pagi-pagi udah benggong gitu”, ucap Caca

“hmm … gw itu masih kepikiran sama orang itu, Ca”, ucap Kimi sambil tersenyum malu. 

“Ha? Orang yang nolongin lu kemaren? Aduh, Kim … please deh. Dia itu CEWE . klo cowo sih gpp lu 
pikirin sampe ubanan juga”, ucap Caca 

“iya. Gw tau. Tapi tuh … Lu liat dong gayanya, tatapannya, tangannya. Kaya cowo dang w yakin dia itu cowo”, ucap Kimi tidak mau kalah 

“hmm … Kimi? Tolong ya … gw tau lu itu orangnya rada stress tapi gw mohon sama lu jangan sampe lu jadi lesbian juga”, ucap Caca 

“Ca … Gw gk pernah merasakan suka sama orang dan baru kali ini rasanya tuh beda banget saat gw liat matanya … Tatapannya tuh … gk bisa gw lupain sampe sekarang. Lagi pula gw juga gk bakal pernah liat dia lagi. Dan … lu tau kan umur gw udah gk panjang lagi Ca. Jadi … Gw harap lu ngerti perasaan gw. Gw gk akan jadi lesbian ko…. Yang penting cukup gw tau perasaan ini memang rasa suka saat first sight”, ucap Kimi dengan raut wajah sedih. Caca pun ikut sedih melihat Kimi. 

“hmm …. Okay. Lu udah janji ya sama gw. Gk bakal jadi lesbian Kim. Meski gw tau lu emang love in first sign. Tapi … Gw gk tau deh Kim. Gw gk bisa liat lu sedih terus kaya gini. Hmmm … jujur aja baru kali ini gw bisa liat lu tersenyum manis dan liat kebahagian di mata lu Kim”, ucap Caca

“Iya … makasih ya”, ucap Kimi 

“Iya. Owh, iya. Udah jam 9 gw harus ke kampus. Gw pergi dulu ya”, ucap Caca

“Okay. Ganbatte ya”, ucap Kimi

“Sip. Dah”, ucap Caca berpamitan

“Da”, balas Kimi dan Caca pun pergi ke kampus.

“Sendiri lagi deh”, ucap Kimi. Kimi pun beranjak dari sofa dan ingin jalan-jalan keluar rumah.

“Pak Ron anterin aku ke mall ya”, ucap Kimi pada supirnya.

“Aduh non … non kan gk boleh pergi keluar rumah dulu”, ucap Pak Ron.

“Ahhh … anterin !! ayo anterin !! atau gk aku pergi sendiri nih”, ucap Kimi yang memaksa. 

“eh … eh … jangan non … kalo non pergi sendiri yang ada bapak yang di omelin”, ucap Pak Ron binggung 

“Makanya ayo anterin”, ucap Kimi sambil tersenyum. 

“aduh … jadi binggung nih bapak. Hmm … ya udah deh. Tapi gk boleh lama-lama ya”, ucap Pak Ron.

“Iya. Gk lama paling lama jam 3 sore ya”, ucap Kimi 

“hmm … Tapi nanti jam 12 makan siang sama minum obatnya ya”, ucap Pak Ron membuat kesepakatan.

“IYA IYA !! di mobil ada obat cadangan aku kan”, ucap Kimi 

“Ada dong. Udah tau bapak selalu taro di mana-mana”, ucap Pak Ron. 

“Tapi pak Ron tunggu di mobil ya”, ucap Kimi 

“He? … Lah kalo nanti Non kenapa napa gimana?”, ucap Pak Ron

“Gk. Percaya deh sama aku. Okay. Deal !!”, ucap Kimi langsung berjalan masuk ke dalam mobil.

“Aduh … udah deal aja nih anak. Hmm … susah susah”, ucap Pak Ron yang akhirnya masuk ke dalam mobil. Pak Ron pun mengantar Kimi menuju mall yang biasa di datangi Kimi. Mall itu berada tidak jauh dari rumah Kimi. Merekapun sampai di mall tersebut dan Kimi langsung masuk ke dalam mall sedangkan Pak Ron menunggu di parkiran bersama mobil.